PURWODADI, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) tanaman agroforestry tebu di wilayah hutan BKPH Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan bersama jajaran petugas KPH Purwodadi, jajaran BKPH Bandung serta pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) wilayah BKPH Bandung. Pertemuan monitoring dan evaluasi dilaksanakan di Kantor BKPH Bandung pada Jumat (24/04).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan program agroforestry yang dikembangkan Perhutani bersama masyarakat desa hutan melalui pola kemitraan produktif. Program agroforestry tebu di wilayah BKPH Bandung dilaksanakan melalui skema kerja sama pada 28 petak kawasan hutan yang tersebar di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Dersemi, Sepreh, Pekuwon, dan Bandung dengan total luas mencapai 148,2 hektare.
Dalam kegiatan tersebut, tim monitoring dan evaluasi melakukan pengecekan langsung terhadap keluasan lahan garapan, kondisi pertumbuhan tanaman tebu, serta melakukan estimasi potensi produktivitas yang akan dihasilkan pada saat masa panen nanti. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi bersama antara Perhutani dan LMDH untuk memastikan pengelolaan agroforestry berjalan sesuai dengan prinsip keberlanjutan serta tidak mengganggu fungsi utama kawasan hutan.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi melalui Kepala Sub Seksi Kemitraan Produktif KPH Purwodadi, Agus Winarno, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi ini penting untuk memastikan pelaksanaan program kemitraan kehutanan berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi semua pihak.
“Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, kami ingin memastikan bahwa pengelolaan agroforestry tebu di kawasan hutan BKPH Bandung berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tetap menjaga kelestarian hutan, serta mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa hutan. Program ini merupakan bentuk sinergi antara Perhutani dan LMDH dalam mengoptimalkan pemanfaatan ruang tumbuh di bawah tegakan hutan secara produktif dan berkelanjutan,” jelas Agus Winarno.
Sementara itu, anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Agroforestry, Gonang Legowo, menjelaskan bahwa hasil pemantauan sementara menunjukkan kondisi pertumbuhan tanaman tebu di beberapa petak tergolong baik dan memiliki potensi produktivitas yang cukup menjanjikan.
“Dari hasil pengecekan lapangan, secara umum pertumbuhan tanaman tebu cukup baik. Kami juga melakukan pengukuran keluasan lahan serta melihat perkembangan tanaman untuk memperkirakan potensi hasil panen. Data ini penting sebagai bahan evaluasi dan perencanaan pengelolaan selanjutnya agar program agroforestry dapat berjalan lebih optimal,” ungkapnya.
Perwakilan LMDH Sido Makmur, Dwi Mujijanto, menyampaikan apresiasi kepada Perhutani yang terus memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam pengelolaan agroforestry di kawasan hutan.
“Kami dari LMDH sangat mendukung kegiatan monitoring dan evaluasi ini karena menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat dalam mengelola lahan hutan secara benar dan bertanggung jawab. Dengan adanya program agroforestry tebu ini, masyarakat dapat memperoleh tambahan penghasilan sekaligus tetap menjaga kelestarian hutan,” ujarnya.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini diharapkan pengelolaan agroforestry tebu di wilayah BKPH Bandung KPH Purwodadi dapat berjalan secara optimal, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, sekaligus tetap menjaga fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan dan kelestarian lingkungan.
Editor: Aris